Tiga Jenis Penyakit Autoimun yang Paling Sering Didiagnosis pada Anak Menurut IDAI

ALengkong • Dipublikasikan Senin, 20 Juli 2026 | 13:03 WIB
Ada tiga jenis penyakit autoimun yang paling sering dokter temui pada anak-anak, yaitu juvenile idiopathic arthritis (JIA), lupus, dan vaskulitis IgA.
Ada tiga jenis penyakit autoimun yang paling sering dokter temui pada anak-anak, yaitu juvenile idiopathic arthritis (JIA), lupus, dan vaskulitis IgA.

JagoSatu.com - Berdasarkan keterangan dari Unit Kerja Koordinasi (UKK) Alergi Imunologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), terdapat tiga bentuk gangguan autoimun yang tercatat paling lazim menjangkau kelompok usia anak. Ketiga kondisi medis tersebut mencakup juvenile idiopathic arthritis (JIA), lupus atau systemic lupus erythematosus, serta vaskulitis IgA. Pemahaman mendalam mengenai kelompok penyakit ini sangat esensial bagi para orang tua mengingat sistem kekebalan tubuh pada kondisi autoimun berbalik menyerang jaringan tubuh yang sehat.

Biasanya, kemunculan awal kondisi autoimun pada anak ditandai oleh gejala yang cenderung umum dan samar, seperti gampang merasa letih. Kondisi kelelahan kronis ini sering kali disalahartikan oleh orang tua sebagai sekadar kelelahan fisik akibat aktivitas sekolah yang padat atau kegiatan olahraga berlebihan. Oleh sebab itu, kewaspadaan serta pemahaman mengenai ragam penyakit autoimun yang kerap mengancam kesehatan anak sangat dibutuhkan agar deteksi dini bisa terlaksana secara tepat sebelum memicu komplikasi organ yang lebih luas.

Jenis pertama yang kerap dijumpai adalah juvenile idiopathic arthritis (JIA), yang merupakan bentuk peradangan kronis pada sendi anak. Kondisi ini menyebabkan sistem kekebalan tubuh menyerang bagian membran sinovial yang melapisi persendian, sehingga memunculkan gejala nyeri, pembengkakan, rasa kaku terutama pada pagi hari, serta keterbatasan gerak pada anak. Jika tidak mendapatkan penanganan medis secara komprehensif dan berkelanjutan, peradangan sendi ini berisiko menyebabkan kerusakan permanen pada struktur persendian anak serta menghambat tumbuh kembang fisiknya.

Kategori kedua yang juga mendominasi kasus pada anak adalah lupus atau systemic lupus erythematosus (SLE). Meskipun penyakit ini dapat menyerang berbagai kelompok usia, pada anak-anak dan remaja biasanya mulai tampak menjelang masa pubertas dan lebih sering ditemukan pada anak perempuan. Lupus dikenal sebagai penyakit dengan seribu wajah karena manifestasi klinisnya sangat beragam dan mampu menyerang hampir seluruh jaringan serta organ tubuh, mulai dari kulit, sendi, darah, hingga organ vital seperti ginjal dan paru-paru. Gejala awal yang sering dijumpai meliputi demam lama tanpa sebab yang jelas, rambut rontok, sariawan berulang, nyeri sendi, hingga munculnya ruam kemerahan di wajah yang menyerupai bentuk kupu-kupu atau butterfly rash.

Vaskulitis IgA menempati urutan berikutnya sebagai salah satu jenis gangguan autoimun yang sering ditemui pada anak. Kondisi ini merupakan bentuk peradangan pada pembuluh darah kecil yang dipicu oleh adanya penumpukan kompleks imun antibodi immunoglobulin A (IgA). Peradangan pembuluh darah ini lazimnya memicu timbulnya gejala berupa bercak-bercak kemerahan atau keunguan pada kulit, nyeri pada bagian perut, gangguan fungsi ginjal, serta pembengkakan atau nyeri sendi. Deteksi dini terhadap vaskulitis IgA sangat penting untuk memantau keterlibatan organ dalam, khususnya saluran pencernaan dan ginjal, agar kerusakan jangka panjang dapat dihindari.

Selain mengenali ragam jenisnya, tantangan terbesar dalam penanganan penyakit autoimun pada anak adalah sifat gejalanya yang sering kali menyerupai penyakit infeksi biasa atau keluhan kelelahan umum. Oleh karena itu, para ahli kesehatan anak selalu mengimbau agar orang tua tidak mengabaikan perubahan fisik sekecil apa pun pada buah hati mereka. Apabila anak menunjukkan gejala yang tidak biasa, seperti demam berkepanjangan yang tidak kunjung reda, penurunan berat badan drastis tanpa alasan yang jelas, pembengkakan sendi, atau munculnya ruam kulit yang menetap, pemeriksaan medis secara menyeluruh ke dokter spesialis anak konsultan imunologi harus segera dilakukan.

Langkah diagnosis dini melalui pemeriksaan laboratorium penunjang, seperti tes darah lengkap, pemeriksaan penanda inflamasi, hingga tes antibodi khusus, memegang peranan krusial untuk mengonfirmasi ada tidaknya kelainan autoimun. Dengan penegakan diagnosis yang cepat dan akurat, dokter dapat merancang strategi pengobatan jangka panjang yang bertujuan untuk menekan aktivitas sistem imun yang berlebihan, mengurangi peradangan, serta menjaga fungsi organ tubuh anak agar tetap optimal. Pengelolaan yang tepat tidak hanya membantu anak menjalani kualitas hidup yang lebih baik, tetapi juga meminimalisir risiko komplikasi berat yang dapat mengancam masa depan tumbuh kembang mereka.

Editor : ALengkong
penyakit autouimun autoimun anak kesehatan anak idai