Fenomena Doom Spending Muncul Saat Masa Depan Finansial Terasa Tidak Pasti

ALengkong • Dipublikasikan Selasa, 21 Juli 2026 | 14:01 WIB
Ilustrasi orang - orang yang sedang belanja
Ilustrasi orang - orang yang sedang belanja

JagoSatu.com - Fenomena doom spending semakin banyak dibahas seiring meningkatnya kecemasan masyarakat terhadap kondisi finansial di masa depan yang terasa tidak pasti. Perilaku ini merujuk pada kebiasaan berbelanja secara impulsif sebagai bentuk pelarian dari tekanan, stres, atau rasa pesimis terhadap situasi ekonomi.

doom spending umumnya terjadi ketika individu merasa sulit melihat tujuan keuangan jangka panjang secara jelas. Ketidakpastian tersebut membuat sebagian orang lebih memilih mendapatkan kepuasan instan melalui pembelian, dibandingkan menabung atau merencanakan keuangan untuk masa depan. Perilaku ini tidak sekadar berkaitan dengan kebiasaan konsumtif biasa, tetapi juga erat dengan kondisi psikologis seseorang, di mana rasa cemas dan tekanan hidup dapat mendorong individu menggunakan belanja sebagai cara cepat untuk memperbaiki suasana hati meskipun bersifat sementara.

Dalam praktiknya, kebiasaan ini sering ditandai dengan pembelian barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan secara spontan dan tanpa perencanaan, sehingga berpotensi mengganggu stabilitas keuangan dalam jangka panjang. Beberapa faktor utama yang turut memperkuat perilaku ini meliputi:

  • Kemudahan Akses Digital: Kemudahan bertransaksi di platform belanja online memungkinkan seseorang melakukan pembelian kapan saja tanpa pertimbangan matang.

  • Paparan Media Sosial: Konten gaya hidup konsumtif yang menampilkan kemewahan atau tren terbaru dapat memicu dorongan untuk ikut membelinya.

  • Kondisi Ekonomi yang Tidak Menentu: Ketidakjelasan masa depan membuat sebagian orang lebih memprioritaskan kebahagiaan jangka pendek ketimbang keamanan finansial.

Dampak dari doom spending tidak hanya mencakup masalah keuangan seperti menurunnya kemampuan menabung dan meningkatnya potensi utang, tetapi juga berdampak secara psikologis berupa rasa bersalah serta penyesalan setelah berbelanja. Jika dibiarkan, hal ini dapat menciptakan siklus masalah finansial yang semakin sulit dikendalikan.

Untuk mengatasinya, penting bagi setiap individu untuk mengenali pemicu emosional di balik kebiasaan belanja tersebut. Menetapkan tujuan keuangan yang konkret juga dapat membantu mengalihkan fokus dari kepuasan sesaat menuju perencanaan jangka panjang. Pada akhirnya, pengelolaan keuangan yang baik tidak hanya bergantung pada angka, tetapi juga membutuhkan pendekatan yang seimbang antara kesehatan mental dan kestabilan finansial.

Editor : ALengkong
psikologi finansial Doom spending Gen Z gaya hidup keuangan