Psikolog UI: Kenali Perubahan Perilaku Anak sebagai Indikasi Ancaman di Ruang Digital

ALengkong • Dipublikasikan Selasa, 21 Juli 2026 | 21:36 WIB
Ilustrasi anak main hp (doc: Freepik)
Ilustrasi anak main hp (doc: Freepik)

JagoSatu.com - Guru Besar Tetap Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Prof. Dr. Rose Mini Agoes Salim, M.Psi., Psikolog, menyampaikan bahwa perubahan perilaku anak bisa jadi merupakan salah satu indikasi awal anak sedang menghadapi ancaman di ruang digital. Psikolog yang biasa disapa Romy itu menyampaikan kepada ANTARA, Selasa, bahwa anak yang menghadapi ancaman di ruang digital mungkin akan menjadi lebih tertutup, sering menyembunyikan layar gawai, dan emosinya berubah-ubah.

Selain itu, ia melanjutkan, anak yang menghadapi ancaman di ruang digital mungkin memiliki teman daring yang dirahasiakan dan tampak takut ketika ditanya tentang aktivitasnya di dunia maya. Menurut Romy, perubahan perilaku semacam itu bisa jadi merupakan sinyal bahwa anak sedang mengalami konflik batin dan kesulitan mengungkapkan rasa tidak aman yang dialami. "Ini bukan karena anak nakal. Secara psikologis mereka belum siap dan belum mampu melindungi dirinya di ruang digital," katanya. "Perubahan yang ada merupakan sinyal bahwa ia sedang dalam konflik batin dan kesulitan memahami maupun mengungkapkan perasaan tidak amannya," ia menambahkan.

Romy menyampaikan bahwa anak memiliki keterbatasan dalam menghadapi risiko di ruang digital, karena kemampuan mereka dalam berpikir kritis, menilai risiko, dan mengelola emosi belum matang. Menurut dia, anak berusia 0 hingga 6 tahun umumnya belum mampu menyaring stimulasi dan mengelola emosi. Anak berusia 7 hingga 12 tahun yang mulai aktif menggunakan internet umumnya belum mampu berpikir kritis dan menilai risiko, sementara pada usia 13 hingga 15 tahun, kemampuan anak dalam mengendalikan diri dinilai belum matang.

Dengan keterbatasan-keterbatasan itu, anak-anak belum memiliki kemampuan memadai untuk mendeteksi dan menghindari bahaya yang muncul di ruang digital. "Sering kali predator mendekati anak secara halus dan bertahap, sehingga tidak disadari sebagai ancaman bagi anak," kata Romy.

Para orang tua disarankan untuk menerapkan langkah-langkah guna melindungi anak dari ancaman kejahatan di ruang digital. "Pencegahan tidak bisa menunggu. Orang tua dan sekolah perlu hadir, mendampingi anak, membangun komunikasi yang aman, membuat aturan digital yang konsisten, serta peka terhadap perubahan perilaku anak," kata Romy. "Perlindungan anak di dunia digital dimulai dari rumah. Anak yang merasa aman akan berani bercerita, dan itu merupakan perlindungan terkuat dari ancaman digital, termasuk predator daring," ia menambahkan.

Ia menyampaikan, implementasi Peraturan Pemerintah tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak atau PP Tunas dalam upaya melindungi anak di ruang digital membutuhkan dukungan dari orang tua, sekolah, dan masyarakat.

Editor : ALengkong
Sumber : https://www.antaranews.com/berita/5658411/kenali-indikasi-anak-menghadapi-ancaman-di-ruang-digital?utm_source=antaranews&utm_medium=desktop&utm_campaign=popular_right
#psikologi anak #perilaku anak #digital