Di Blora, 19 Siswa SD Mual hingga Nyeri Perut setelah Konsumsi MBG

Pratama Karamoy • Dipublikasikan Selasa, 21 Juli 2026 | 14:45 WIB
PENANGANAN MEDIS: Siswa SDN Sendangrejo, Blora, Jateng, dirawat di Puskesmas Ngawen kemarin (20/7). Total ada 19 siswa yang mengeluh sakit perut setelah menyantap menu MBG.
(Foto: SCREENSHOT ACHMAD SYAROSI/RADAR BOJONEGORO GRUP JAWA POS)
PENANGANAN MEDIS: Siswa SDN Sendangrejo, Blora, Jateng, dirawat di Puskesmas Ngawen kemarin (20/7). Total ada 19 siswa yang mengeluh sakit perut setelah menyantap menu MBG. (Foto: SCREENSHOT ACHMAD SYAROSI/RADAR BOJONEGORO GRUP JAWA POS)

 SAAT Presiden Prabowo Subianto memaparkan capaian pemerintah, kasus dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali terjadi di Jawa Tengah. Kemarin (20/7), sebanyak 19 siswa SDN Sendangrejo, Kecamatan Ngawen, Blora, mengalami mual, muntah, dan nyeri perut setelah menyantap menu MBG. Pantauan Radar Bojonegoro Grup Jawa Pos, para siswa langsung dilarikan ke Puskesmas Ngawen. Sekitar pukul 09.30, mereka menjalani perawatan di ruang observasi dengan didampingi orang tua dan guru.

Guru SDN Sendangrejo Nova Dwi menjelaskan, makanan dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bogowanti tiba di sekolah sekitar pukul 07.00. Namun, makanan baru dibagikan kepada siswa setelah upacara. "Tak lama setelah makan, beberapa anak mengeluh mual, sakit perut, bahkan muntah berulang kali," ujarnya.

Pihak sekolah langsung membawa siswa yang mengalami gejala ke Puskesmas Ngawen. Total 19 siswa dari kelas III, IV, dan V mendapat penanganan medis. "Kami tidak ingin mengambil risiko. Anak-anak yang menunjukkan gejala langsung kami antar ke puskesmas untuk diperiksa," katanya. Nova mengungkapkan, guru sempat mencicipi menu sebelum dibagikan dan tidak menemukan kejanggalan. Namun, setelah muncul keluhan dari siswa, ditemukan beberapa ompreng mengeluarkan bau tidak sedap. Selain itu, susu kemasan yang disajikan juga diduga bermasalah.

Menu MBG yang dibagikan kemarin terdiri atas nasi, telur utuh, tempe campur kacang, anggur, dan susu cokelat kemasan. Sebagai langkah antisipasi, distribusi makanan dihentikan. Susu yang diduga menjadi penyebab diamankan pihak SPPG, sedangkan sisa makanan disita petugas kesehatan sebagai sampel pemeriksaan. "Orang tua siswa juga langsung kami hubungi agar mengetahui kondisi anak-anak mereka," imbuh Nova.

Petugas Surveilans Puskesmas Ngawen Supriyanto mengatakan, para siswa mulai berdatangan sejak sekitar pukul 08.00 dengan keluhan mual, muntah, dan nyeri perut. "Seluruh pasien langsung kami periksa dan mendapat penanganan sesuai kondisinya," jelasnya.

Baca Juga: Banyak Dapat Kritik, Program MBG Jalan Terus

BGN Evaluasi Penerima MBG

Seusai Sidang Kabinet Paripurna kemarin, Wakil Kepala BGN Agustina Arumsari mengatakan, evaluasi MBG difokuskan pada ketepatan sasaran penerima manfaat. Termasuk memprioritaskan wilayah dengan angka stunting tinggi serta membersihkan data penerima yang berpotensi ganda.

Agustina menjelaskan, arahan tersebut sejalan dengan penekanan Presiden Prabowo agar MBG menjadi instrumen untuk mendukung target pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya pengentasan kelaparan (zero hunger), peningkatan kesehatan (good health and well-being), dan pendidikan berkualitas. "Dari arahan Presiden, kami melihat program MBG harus benar-benar menjadi instrumen untuk memperbaiki status gizi masyarakat, terutama kelompok yang paling membutuhkan," ujarnya. (ozi/ian/lyn/oni)

Editor : Pratama Karamoy
Sumber : Koran Jawa Pos
Headline Mbg