KUPANG – Pada apa yang pernah terjadi di pohon cengkeh di Desa Nenowea, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) itu, hati siapa yang tidak robek? Tidakkah banyak pihak seharusnya menaruh perhatian atas tragedi tersebut.
“Sebagai gubernur NTT tentunya saya berduka cita mendalam dengan kejadian ini. Namun demikian, adik kita mesti meninggal karena kegagalan sistem di pemerintahan provinsi, Kabupaten Ngada, sampai ke tingkat bawah. Tentu dengan perangkat sistem yang lain,” kata Gubernur NTT Melki Laka Lena, seperti dikutip Antara kemarin (4/2).
YBR, bocah kelas IV SD, ditemukan meninggal dalam posisi tergantung di pohon cengkeh Kamis (29/1) pekan lalu. Dari surat yang ditulis dalam bahasa Bajawa, bocah 10 tahun tersebut mengaku kecewa karena orang tuanya tak mampu membelikan buku serta pensil untuk sekolah.
“Saya sudah perintahkan Kapolres Ngada AKBP Andry Valentino untuk segera mendatangi kediaman orang tua korban,” kata Rudi di Mapolda NTT, Kota Kupang, seperti dilansir Timor Express kemarin (4/2).
Melalui Kapolres Ngada, Kapolda NTT juga menyalurkan bantuan materi serta dukungan moral kepada keluarga korban yang tengah berduka. Selain itu, Kapolda NTT juga secara khusus mengirimkan tim psikologi dan konselor dari Bagian Psikologi Biro Sumber Daya Manusia Polda NTT untuk melakukan pendampingan intensif.
Baca Juga: Pelatih Tim Nasional Indonesia Blusukan ke Kawasan Eropa
Dari Jakarta, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Atip Latipulhayat menyampaikan duka citanya atas wafatnya YBR. “Peristiwa ini tentu menjadi keprihatinan bersama,” ujarnya dalam keterangan resminya kemarin (4/2).
Dia menilai, kejadian ini turut menjadi pengingat bahwa kesejahteraan psikososial anak merupakan isu yang kompleks sehingga memerlukan perhatian dan dukungan berkelanjutan dari keluarga, sekolah, masyarakat, dan negara.
Dalam penjelasannya, Atip menyebutkan bahwa pendampingan murid tercatat sebagai penerima manfaat Program Indonesia Pintar (PIP) sebagai bagian dari kebijakan afirmasi pendidikan. Dana PIP pun telah disalurkan sesuai mekanisme yang berlaku.
“Namun demikian, Kemendikdasmen menegaskan bahwa pemenuhan hak dan perlindungan anak, khususnya bagi anak-anak dari keluarga rentan, tidak dapat berhenti pada dukungan finansial semata, melainkan harus mencakup pendampingan psikososial, perhatian moral, dan lingkungan tumbuh kembang yang suportif,” paparnya.
Di Rumah Nenek
Berdasarkan keterangan kepolisian, korban ditemukan tergantung pada dahan pohon cengkeh di kebun milik WN, nenek korban. Sehari-hari YBR dititipkan sang nenek karena ibundanya, seorang janda yang bekerja serabutan, kewalahan menghidupi lima anak.
Jenazah korban kali pertama ditemukan Komelis, warga Dusun Tiwungebu, Desa Nenowea, yang saat itu hendak mengambil kayu bakar di sekitar pondok milik nenek korban. “Saksi melihat korban sudah dalam kondisi tergantung di pohon cengkeh. Ia langsung berlari ke jalan dan berteriak meminta pertolongan,” ujar Kabidhumas Polres Ngada Ipda Beni Pissort.
Warga kemudian melaporkan kejadian tersebut kepada petugas di Pospol Jerebuu dan Posramil Jerebuu. Polisi yang tiba di lokasi langsung melakukan olah tempat kejadian perkara. Petugas juga menemukan secarik surat tulisan tangan yang diduga ditulis oleh korban menggunakan bahasa daerah Bajawa. Surat tersebut berisi pesan perpisahan kepada sang ibu.
Sebelumnya, YBR dikabarkan sempat meminta uang kepada sang ibu untuk membeli buku dan pena seharga kurang lebih Rp 10 ribu. Sayangnya, permintaan itu tak dapat dipenuhi sang ibu lantaran tak memiliki uang. (crm6/ima/tg)
Editor : Pratama KaramoySumber : Jawa Pos Koran